Site : www.iccri.net
     Pelayanan Alat & Mesin Kopi Kakao Agenda Pelatihan :: Kembali ke awal >>>
 
RUMUSAN SIMPOSIUM KOPI 2006, SURABAYA 2-3 AGUSTUS 2006

 

Mengacu pada tema Simposium Kopi 2006 yaitu Penguatan Agribisnis Kopi Melalui Peningkatan Mutu, Diversifikasi Produk dan Perluasan Pasardan memperhatikan arahan dan makalah kunci Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, pemaparan 10 makalah utama, 8 makalah pendukung dan diskusi selama berlangsungnya Simposium dan pameran, maka dihasilkan rumusan sebagai berikut:

  1. Komoditas kopi yang merupakan komoditas potensial, penghasil pendapatan petani, penghasil devisa negara dan pelestari lingkungan perlu terus dikembangkan melalui pengkajian aspek-aspek keunggulan komparatif inklusifnya.

  2. Prioritas penelitian perkopian di masa mendatang perlu ditekankan pada pengkajian sistem agribisnis, sosial ekonomi, penyempurnaan teknologi budidaya dan pengolahannya termasuk yang berkandungan teknologi tinggi dan memerlukan keterlibatan pihak swasta dan institusi penelitian di dalam dan luar negeri.

  3. Pemasyarakatan inovasi teknologi yang dihasilkan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) perlu diintensifkan dalam program Prima Tani, utamanya di daerah-daerah sentra kopi potensial dan daerah-daerah yang memiliki program pengembangan kopi.  

  1. Program revitalisasi kopi akan ditempuh melalui:

    Kopi Robusta:

    1. Perbaikan mutu hasil dan sistem pemasaran.

    2. Pembinaan penerapan olah basah di tingkat kelompok tani untuk lima tahun mendatang ditargetkan dapat dilakukan di provinsi Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan total produksi  10.000 ton kopi beras yang dapat memberikan tambahan keuntungan sebesar US$ 3,2 juta. Kegiatan ini diharapkan dapat mengimbas ke kawasan perkebunan sekitarnya dan memberikan keuntungan tambahan dan produksi yang jauh lebih besar lagi.

    3. Diversifikasi, intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan.

    Kopi Arabika:

    1. Perbaikan mutu hasil dan sistem pemasaran.

    2. Pembinaan penerapan olah basah di tingkat kelompok tani untuk lima tahun mendatang ditargetkan dapat dilakukan di provinsi Sumatera Utara, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur  dengan total produksi 7.500 ton kopi beras, sehingga dapat memberikan tambahan keuntungan sebesar US$ 7,5 juta. Kegiatan ini diharapkan dapat mengimbas ke kawasan perkebunan sekitarnya dan memberikan keuntungan tambahan dan produksi yang jauh lebih besar.

    3. Perluasan areal diarahkan ke daerah potensial dan berpeluang dilaksanakan dalam waktu dekat adalah Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Dalam waktu lima tahun mendatang ditargetkan areal pengembangan kopi arabika mencapai 15.000 ha.

    4. Pengembangan, peremajaan, rehabilitasi, intensifikasi dan diversifikasi.

    5. Program ini perlu didukung penyediaan bahan tanaman unggul yang diproduksi dengan teknologi perbanyakan secara klonal dan metode kultur jaringan.

  2. Guna meningkatkan produktivitas, mutu hasil, harga jual kopi dan pendapatan para petani, perlu diadopsi program pendampingan dengan model kemitraan bermediasi (MOTRAMED, seperti yang telah dilakukan dengan sukses di Bali, Jawa Timur dan NTT, yang melibatkan mitra kelompok tani, eksportir dan mediator), di sentra-sentra produksi kopi, sebagai salah satu sarana penguatan kelembagaan petani dalam pengembangan agribisnis kopi mulai dari sub-sistem budidaya, pengolahan hasil dan pemasaran hasil.

  3. Perluasan segmentasi pasar kopi dapat ditempuh dengan memberdayakan kopi yang memiliki karakteristik spesialti, mengurangi hambatan non-tariff, antara lain penerapan 4C (Common Code for Coffee Community) dan penerapan Hak Perlindungan Indikasi Geografis.

  4. Inovasi teknologi pascapanen untuk pengolahan dan pengembangan diversifikasi produk kopi skala kelompok tani [UMKM] harus terus diciptakan agar agribisnis kopi tetap menguntungkan bagi pelaku usaha kopi dan dapat merupakan penggerak ekonomi nasional.

  5. Peningkatan permintaan produk-produk kopi yang dikaitkan dengan isu keamanan pangan, lingkungan, kesejahteraan pekerja, serta keberlanjutan, perlu diantisipasi sejak dini oleh para pelaku agribisnis di Indonesia dan disosialisasikan kepada para petani kopi.

  6.  Teknologi olah basah hemat air yang dihasilkan oleh Puslitkoka perlu dimanfaatkan dalam penerapan pengolahan kopi basah dengan sistem kelompok tani guna meningkatkan mutu kopi rakyat dan pendapatan petani serta melestarikan sumber daya alam.

  7. Beberapa varietas dan klon kopi arabika unggul harapan hasil seleksi Puslitkoka yang mempunyai keunggulan produktivitas, ketahanan terhadap nematoda parasit dan mutu fisik serta citarasa yang baik perlu disebarluaskan sebagai bahan tanam peremajaan tanaman dan perluasan areal.

  8. Perangkap hama penggerek buah kopi yang dilengkapi dengan senyawa penarik (atraktan HYPOTAN) dapat digunakan sebagai salah satu metode pengendalian hama tersebut dan perlu disebarluaskan ke tingkat petani. 

  9. Salah satu upaya peningkatan pendapatan petani dapat dilakukan dengan penerapan model sistem usaha tani perkebunan kopi terintegrasi dengan ternak, pemanfaatan limbah kebun dengan teknologi pengomposan, penanganan susu kambing dan perbaikan sistem budidaya.

Tim Perumus: Dr. Teguh Wahyudi, Dr. Soetanto Abdoellah, Dr. Surip Mawardi, Dr. Sri Mulato,

Dr. Pujiyanto, Ir. Aris Wibawa, SU., Dr. John Bako Baon

 

 

 

:: Kembali ke awal >>>
Copyright © 2005 - 2008  www.iccri.net - Site. All Right reserved.