| |
 |
|
|
Mengacu pada tema Simposium Kopi 2006 yaitu
“Penguatan Agribisnis Kopi Melalui
Peningkatan Mutu, Diversifikasi Produk dan Perluasan Pasar”
dan memperhatikan arahan dan makalah
kunci Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, pemaparan
10 makalah utama, 8 makalah pendukung dan diskusi selama
berlangsungnya Simposium dan pameran, maka dihasilkan rumusan
sebagai berikut:
-
Komoditas
kopi yang merupakan komoditas potensial, penghasil pendapatan
petani, penghasil devisa negara dan pelestari lingkungan perlu
terus dikembangkan melalui pengkajian aspek-aspek keunggulan
komparatif inklusifnya.
-
Prioritas
penelitian perkopian di masa mendatang perlu ditekankan pada
pengkajian sistem agribisnis, sosial ekonomi, penyempurnaan
teknologi budidaya dan pengolahannya termasuk yang berkandungan
teknologi tinggi dan memerlukan keterlibatan pihak swasta dan
institusi penelitian di dalam dan luar negeri.
-
Pemasyarakatan inovasi teknologi yang dihasilkan Pusat Penelitian
Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) perlu diintensifkan dalam
program Prima Tani, utamanya di daerah-daerah sentra kopi
potensial dan daerah-daerah yang memiliki program pengembangan
kopi.
|
-
Program
revitalisasi kopi akan ditempuh melalui:
Kopi Robusta:
-
Perbaikan
mutu hasil dan sistem pemasaran.
-
Pembinaan
penerapan olah basah di tingkat kelompok tani untuk lima tahun
mendatang ditargetkan dapat dilakukan di provinsi Lampung,
Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara
Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan total produksi
10.000 ton kopi beras yang dapat memberikan tambahan keuntungan
sebesar US$ 3,2 juta. Kegiatan ini diharapkan dapat mengimbas ke
kawasan perkebunan sekitarnya dan memberikan keuntungan tambahan
dan produksi yang jauh lebih besar lagi.
-
Diversifikasi, intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan.
Kopi Arabika:
-
Perbaikan
mutu hasil dan sistem pemasaran.
-
Pembinaan
penerapan olah basah di tingkat kelompok tani untuk lima tahun
mendatang ditargetkan dapat dilakukan di provinsi Sumatera Utara,
Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur
dengan total produksi 7.500 ton kopi beras, sehingga dapat
memberikan tambahan keuntungan sebesar US$ 7,5 juta. Kegiatan
ini diharapkan dapat mengimbas ke kawasan perkebunan sekitarnya
dan memberikan keuntungan tambahan dan produksi yang jauh lebih
besar.
-
Perluasan
areal diarahkan ke daerah potensial dan berpeluang dilaksanakan
dalam waktu dekat adalah Sumatera Utara, Nanggroe Aceh
Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Nusa Tenggara
Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Dalam waktu lima tahun
mendatang ditargetkan areal pengembangan kopi arabika mencapai
15.000 ha.
-
Pengembangan, peremajaan, rehabilitasi, intensifikasi dan
diversifikasi.
-
Program ini perlu didukung penyediaan bahan tanaman unggul yang
diproduksi dengan teknologi perbanyakan secara klonal dan metode
kultur jaringan.
-
Guna meningkatkan produktivitas, mutu hasil,
harga jual kopi dan pendapatan para petani, perlu diadopsi program
pendampingan dengan model kemitraan bermediasi (MOTRAMED,
seperti yang telah dilakukan dengan sukses di Bali, Jawa Timur dan
NTT, yang melibatkan mitra kelompok tani, eksportir dan mediator),
di sentra-sentra produksi kopi, sebagai salah satu sarana
penguatan kelembagaan petani dalam pengembangan agribisnis kopi
mulai dari sub-sistem budidaya, pengolahan hasil dan pemasaran
hasil.
-
Perluasan
segmentasi pasar kopi dapat ditempuh dengan memberdayakan kopi
yang memiliki karakteristik spesialti, mengurangi hambatan
non-tariff, antara lain penerapan 4C (Common Code for Coffee
Community) dan penerapan Hak Perlindungan Indikasi Geografis.
-
Inovasi
teknologi pascapanen untuk pengolahan dan pengembangan
diversifikasi produk kopi skala kelompok tani [UMKM] harus terus
diciptakan agar agribisnis kopi tetap menguntungkan bagi pelaku
usaha kopi dan dapat merupakan penggerak ekonomi nasional.
-
Peningkatan
permintaan produk-produk kopi yang dikaitkan dengan isu keamanan
pangan, lingkungan, kesejahteraan pekerja, serta keberlanjutan,
perlu diantisipasi sejak dini oleh para pelaku agribisnis di
Indonesia dan disosialisasikan kepada para petani kopi.
-
Teknologi
olah basah hemat air yang dihasilkan oleh Puslitkoka perlu
dimanfaatkan dalam penerapan pengolahan kopi basah dengan sistem
kelompok tani guna meningkatkan mutu kopi rakyat dan pendapatan
petani serta melestarikan sumber daya alam.
-
Beberapa
varietas dan klon kopi arabika unggul harapan hasil seleksi
Puslitkoka yang mempunyai keunggulan produktivitas, ketahanan
terhadap nematoda parasit dan mutu fisik serta citarasa yang baik
perlu disebarluaskan sebagai bahan tanam peremajaan tanaman dan
perluasan areal.
-
Perangkap hama penggerek buah kopi yang
dilengkapi dengan senyawa penarik (atraktan HYPOTAN)
dapat digunakan sebagai salah satu metode pengendalian hama
tersebut dan perlu disebarluaskan ke tingkat petani.
-
Salah satu upaya peningkatan pendapatan
petani dapat dilakukan dengan penerapan model sistem usaha tani
perkebunan kopi terintegrasi dengan ternak, pemanfaatan limbah
kebun dengan teknologi pengomposan, penanganan susu kambing dan
perbaikan sistem budidaya.
Tim Perumus:
Dr. Teguh
Wahyudi, Dr. Soetanto Abdoellah, Dr. Surip Mawardi, Dr. Sri Mulato,
Dr. Pujiyanto,
Ir. Aris Wibawa, SU.,
Dr. John Bako Baon |
|
|
|