
STANDAR OPERASIONAL
PENGENDALIAN (SOP)
Hama
Penggerak Buah Kakao (PBK)
Conopomorpha Cramerella, Snell
Strategi pengendalian PBK
untuk jangka pendek memerlukan standar operasional yang digunakan
sebagai acuan pelaksanaan pengendalian di lapangan secara benar. Hal ini
perlu disusun mengingat masih seringnya terjadi salah persepsi dalam
mengartikan saran pengendalian.
Standar Operasional
Pengendalian PBK adalah sebagai berikut :
1.
Kultur teknis
Pangkasan kakao bertujuan
meningkatkan pembungaan dan pembuahan, memperbaiki aerasi kebun dan
mempermudah manajemen tanaman. Pangkasan produksi sekaligus kontrol
tinggi tajuk tanaman dilakukan dua kali setahun yakni pada akhir kemarau
menjelang awal hujan (Oktober/ November) dan akhir musim hujan (Maret/April).
Target cabang yang dipangkas adalah yang tingginya >4m. Pangkasan
pemeliharaan dilakukan bulan Januari/Februari, dan Juli/Agustus.
Wiwilan (pembuangan tunas air) dilakukan sebulan sekali atau dua
kali tergantung pada laju tumbuhnya.
Pemupukan kakao bertujuan
untuk meningkatkan kesehatan tanaman dan produksi buah. Dengan hasil
buah yang banyak diharapkan terjadi penurunan intensitas serangan dan
tingkat kerusakan biji karena efek “pengenceran”. Pupuk organik dan
anorganik dapat digunakan, dengan dosis yang didasarkan pada hasil
analisis tanah dan daun kakao.
Pohon penaung kakao
berfungsi sebagai penyangga (buffer) faktor-faktor lingkungan
yang kurang mendukung pertumbuhan dan produksi kakao. Makin marginal
areal, maka populasi dan fungsi pohon penaung semakin besar. Apabila
digunakan lamtoro atau Gliricidia, maka pada awal musim hujan
sekitar 50% populasinya secara selang-seling dilakukan topping
pada batas 1 m di atas tajuk kakao. Populasi 50% sisanya dilakukan
topping pada tahun berikutnya. Percabangan selanjutnya perlu diatur
agar tanaman kakao memperoleh sekitar 80% penyinaran langsung.
2.
Panen sering,
dilakukan terhadap buah masak, masak fisiologis, dan buah terserang PBK.
Interval panen 5-7 hari. Buah langsung dibelah dan diambil bijinya pada
hari yang sama.
3.
Sanitasi,
yaitu melakukan pembenaman kulit buah dan plasenta dengan kedalaman
sekitar 20 cm dari permukaan tanah. Pemanen mengumpulkan buah yang
dipanen pada TPH (Tempat Pengumpulan Hasil). Jumlah TPH dan lubang
sanitasi tergantung pada volume panen. Sebagai patokan, setiap 2-4 ha
areal kakao diperlukan satu TPH dengan satu lubang sanitasi. Lubang
segera ditutup tanah apabila kegiatan pemecahan buah telah selesai. Pada
jadwal panen berikutnya, dibuat lubang sanitasi yang baru. Jika
kesulitan melakukan pembenaman, kulit buah kakao dapat dicacah untuk
dijadikan kompos atau pakan ternak.
Pencacahan kulit buah kakao menggunakan alat pencacah (Shreader)
yang dikembangkan olek Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia,
merupakan teknologi pengendalian PBK yang prospektif untuk dikembangkan.
Teknologi ini digunakan untuk mengantisipasi kegiatan sanitasi atau
pembenaman kulit buah yang sulit dilakukan pada musim panen raya.
Pencacahan kulit buah selain dapat membunuh larva PBK, hasil cacahannya
dapat digunakan sebagai sumber bahan organik dan sebagai pakan ternak
yang mempunyai nilai gizi tinggi setelah melalui proses pengomposan .
4.
Penyemprotan Insektisida
Penyemprotan insektisida dilakukan terutama jika serangan PBK dengan
kriteria berat sudah mencapai 30%.
Penyemprotan dilakukan pada saat buah kakao sebagian besar berumur 3
bulan atau berukuran panjang antara 8 -10 cm. Penyemprotan tidak
efektif jika dilakukan terhadap buah dewasa (panjang >12cm).
Sasaran penyemprotan adalah buah-buah kakao tempat imago PBK
bertelur dan cabang-cabang horizontal tempat beristirahatnya imago PBK.
Insektisida
yang digunakan dari golongan piretroid sintetik dan dianjurkan yang
sudah diuji keefektifannya. Konsentrasi formulasi yang digunakan
berkisar antara 0,06% - 0,1% atau sesuai anjuran pada kemasan pestisida,
dengan menggunakan alat semprot knapsack sprayer, volume
semprot 250 ml/pohon atau 250 l per hektar.
5.
Penyarungan Buah
-
Penyarungan buah dilakukan pada buah umur 3 bulan
yang diperkirakan panjang antara 8-10 cm, menggunakan kantong plastik
lebar 15 cm, panjang 28 cm, tebal 0,2 mm; atau dapat juga menggunakan
bahan lainnya seperti koran bekas, kertas semen, dll
-
Penyarungan kantong plastik dapat dilakukan
menggunakan alat yang terbuat dari bambu atau pipa paralon (PVC)
berdiameter 1,5 “ (5 cm).
-
Penyarungan
dilakukan terhadap semua pentil kakao pada musim pembuahan rendah,
yaitu 3 bulan sebelum saat panen rendah. Pada periode panen raya,
penyarungan buah dilakukan sesuai keinginan petani berapa produksi
yang dikehendaki. Setiap daerah perlu menyesuaikan dengan pola panen
di daerah tersebut, misalnya di Jawa saat penyarungan yang tepat
adalah bulan Oktober-November, di Sumatera antara bulan Februari-Maret.
STRATEGI JANGKA PANJANG
Strategi pengendalian PBK jangka panjang adalah
penggunaan bahan tanam tahan, pemanfaatan agens hayati, dan penerapan
teknologi pengendalian lainnya. Strategi ini merupakan program utama
penelitian yang saat ini sedang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kopi dan
Kakao Indonesia. Hasil seleksi bahan tanam tahan PBK di Sumatera Utara
telah diperoleh satu klon harapan tahan PBK yakni KW 514, sementara
hasil seleksi di Ladongi, Sulawesi Tenggara didapatkan dua klon
harapan tahan, yaitu ARDACIAR 25 dan ARDACIAR 10. Klon-klon tersebut
saat ini sedang diuji multilokasi di beberapa daerah endemik PBK.
Berdasarkan pengamatan komponen dayahasil dan mutu hasil, KW 514
memiliki potensi keunggulan sifat daya hasil dan mutu hasil, yaitu
menghasilkan jumlah buah rata-rata mencapai 72 buah atau setara 3,88 kg
biji kering/thn dengan berat kering 1,10
g/biji, dan jumlah biji per buah 49 biji. |